Thursday, May 28, 2009

Raksasa yang semakin ompong


Tubuh harimau yang kekar itu mencerminkan kegagahannya, kegesitan dan kekuatannya dalam mengejar buruan..bahkan ketika harus berebutan mangsa dengan hyena kompetitor abadinya. Gesekan pun tak pelak sering terjadi jika mereka memperebutkan kekuasaan dan dominasi diarea yang sama.

Namun kini harimau itu sudah mulai tidak menyeramkan dan rapuh. Giginya yang sering dipakainya sebagai senjata mulai ada yang retak, cuil bahkan beberapa sudah mulai tanggal. Terbayang sudah sekuat dan sesehat apapun harimau tadi kalau nantinya tanpa gigi maka dia hanyalah sekedar macan ompong. Mangsanyapun tak mampu lagi dia kunyah, cuma bisa ditangkap tapi sejurus kemudian hanya bisa diemut-emut lalu terlepas karena licin oleh liurnya sendiri.

Yah..ini memang cerita yang mengada-ada, tidak riil karena senyatanya jika harimau telah kehilangan gigi maka tak lama kemudian dia pasti segera mati, entah infeksi entah kelaparan.

Namun fenomena di alam bisa dijadikan pelajaran berharga bahkan ketika dikorelasikan dengan konteks bisnis. Yup..salah satu raksasa otomotif di Indonesia sekarang ini bak macan ompong, tak punya gigi lagi. Ketenaran akan ketangguhan dan kekuatannya menangkap mangsa (konsumen) dan mengalahkan dominasi hyena (kompetitor) makin diragukan.

Bagaimana tidak, SDM dibagian marketingnya yang berfungsi sebagai gigi semakin banyak saja yang mengundurkan diri entah karena tidak betah, tertekan bahkan dibajak perusahaan lain. Tapi hingga kini sejak 1,5 tahun belakangan masih saja belum tampak nyata perubahan maupun perhatian nyata yang diperlihatkan oleh manajemen perusahaan tersebut terhadap masalah ini. Yang ada hanyalah menumbuhkan kembali gigi baru..hmm…bisa dibilang gigi susu yang sudah pasti tidak setajam dan setangguh gigi yang lama.

Bagaimana tidak, seharusnya mereka berlari namun karena terlalu banyak yang baru sehingga hanya berjalan ditempat, meneruskan yang diwariskan saja. Itupun jika yang mewariskan ikhlas ilmunya dipakai.

Mestinya ada langkah nyata pembelajaran karena sejatinya pekerja yang handal meninggalkan posisi sekarang hanya disebabkan oleh: masalah remunerasi, suasana kerja, sistem kerja dan masalah pribadi (yang tidak dapat dielakkan lagi, misal mengurus anak).

Kalau ditilik dari website raksasa ini maka kriteria yang digunakan untuk merekrut juga kurang mantap. Posting di posisi marketing tapi yang dicari berlatar belakang teknik hhmm… Mungkin untuk posting sales hal tersebut bisa diterima namun perspektif marketing jauh lebih luas dari sales. Sales hanyalah bagian kecil dari arena marketing dengan segala strategi perangnya.

Kini, mungkin jika tetap seperti sekarang dan tidak ada lagi keprihatinan dan perhatian mendalam terhadap tanggalnya gigi-gigi tersebut, maka tak lama lagi harimau raksasa ini akan tersingkir dari denominasinya.

 

Salam

Posted by ndablek at 07:47:40 | Permalink | No Comments »

Wednesday, May 27, 2009

Harum Mewangi Semerbak Sepanjang Hari


 

 

Hmmm…sniff..snif..haruuummm…..

Kenapa ya para wanita sejak mulai tumbuh dewasa menjadi lebih wangi?

Sebuah pertanyaan gak penting yang perlu dilontarkan untuk menjawab rasa ingin tahu saya yang cupet ini..hehehe..

Di kantor wangi, dikampus wangi, dirumah wangi.

Lha wong parfumnya aja beda, kalau wanita selalu eu de parfum tapi kalau pria cukup eu de toilet (artinya cukup untuk melawan bau toilet saja hakhakhakkk..)

 

Setidak-tidaknya jika ia tidak memakai parfum minimal wangi shampoo ataupun lotion yang dipakainya sudah cukup membuat pria mabuk kepayang. Pengen deh rasanya nyungsep dalam pelukan kelembutannya itu xixixiii…apalagi kalo dia putih langsing sexy berwajah cute dan berambut panjang (hakhakhakkk…hmm..sepertinya mendahulukan kepentingan pribadi nih.. )

 

Pun kalau anda sempat main ke area pribadinya..huss..saya tahu pikiran ngeres anda…BUKAAANN….BUKAANNN ITUH MAKSUD SAYA!!!

Maksud saya kalau kita melewati/masuk kamar wanita pasti wangi parfum ruangan langsung menyergap hidung belang kita para pria (eh hidung lu kali, gw gak hehe..)

 

Memang tabu dan tidak pantas bagi wanita jika tampil seadanya dan tidak wangi, seperti halnya tabu bagi pria untuk berjiwa rapuh dan mudah menangis.

Nah lho, pertanyaan saya terjawab sendiri disini malah..hiks..

But anywayyy…. apa kalian para wanita tidak takut keracunan sih dengan bahan kimia pewangi yang terus menerus anda hirup itu sih?

Posted by ndablek at 03:16:42 | Permalink | No Comments »

Sunday, May 24, 2009

Beriman atau Beragama?

Apa bedanya ya?
Selintas terlihat mirip bahkan bagi sebagian orang dianggap sama.
Tapi pendapat saya..
Beragama:
Seringkali dengan menjalankan ritual keagamaan secara runut, lengkap dan benar, bersekolah yang berdoktrin agama, rajin beribadah, tak pernah lupa berdoa yang panjang-panjang, menyanyi dengan semangat bahkan sampai menangis sudah dianggap cukup.
Bahkan kalau ada yang menghina agamanya maka harus dibela mati-matian, bahkan dengan mematikan orang lain yang dianggap menghina tadi wuihhh…
Hmm..ini yang masih tanda tanya sebenarnya bagi saya, betulkan agama atau Tuhan itu perlu dibela? Lha wong kalau mau yang namanya Tuhan super kuasa itu kan tinggal ngedip ”ting” bablas semua orang yang Dia tidak berkenan hehehe..
Kemudian berprinsip ”Jangan lakukan sesuatu yang kau tidak inginkan dilakukan orang lain terhadapmu.”

Nah sekarang beriman:
Beriman artinya menyerahkan diri sepenuhnya, tidak lagi ”believe” tapi sudah ”trust”, tentu saja dengan tidak meninggalkan ritual keagamaan. Namun titik beratnya bukan pada ritualnya melainkan pada apa yang melatarbelakanginya.
Contoh sederhana saat memberikan persembahan bukan nominalnya saja, tapi darimana uang itu berasal, dan keikhlasan saat menyerahkannya. Meyakini sepenuhnya posisi sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus bisa menempatkan diri secara bertanggungjawab dalam alam semesta ini, bertanggung jawab terhadap pencipta, diri sendiri, keluarga dan lingkungannya.Mempraktekkan cinta kasih, tidak hanya mengiyakannya saja.
Prinsipnya, ” Lakukanlah lebih dulu sesuatu yang kau inginkan orang lain lakukan padamu.”

Beriman pasti beragama namun beragama belum tentu beriman.
Anda yang memilih.

Posted by ndablek at 06:45:37 | Permalink | No Comments »

Wednesday, April 8, 2009

Niat baik yang malah menambah kerepotan

Cerita ini mengingatkan saya akan sesuatu.

Si Tiwul berencana memasang lukisan di dinding rumahnya, segala sesuatunya telah siap, posisi juga telah diukur dan hanya tinggal memukul paku dengan palu saja maka terpasanglah lukisan tadi. Sangat sederhana, mudah dan cepat, akan selesailah pekerjaan memasang tersebut.

Tetapi pada saat akan memukul paku, datanglah si Panjul membantu memegang lukisan tersebut sambil berkata,

” Wul, jika langsung dipasang kurang indah, sebaiknya di dinding diberi kayu triplek dahulu agar lebih indah.”

Sambil menurunkan lukisan si Panjul berkata kembali, ”Tunggu sebentar ya, dirumah ada triplek yang bisa dipakai, aku ambil sebentar.”

Tiwul yang mendengar rencana baik itupun setuju saja.

Panjul segera pulang, setengah jam kemudian kembali dengan membawa triplek dan mencoba memasangnya tetapi ternyata triplek tersebut kebesaran.

” Wul, triplek kita kebesaran, sebaiknya kita potong dahulu saja agar tampak lebih serasi.”

Maka si Tiwul pun mengangguk menuruti ide si Panjul sambil berkata,” Njul, aku tidak punya gergaji, bagaimana mengecilkannya?”

Panjul yang baik hati ini segera menjawab,” Tunggu sebentar ya, aku akan keluar mencari pinjaman.”

 

Kira-kira sejam kemudian Panjul kembali dengan membawa gergaji, namun sayang mata gergajinya sudah tidak tajam, kurang bagus tapi masih bisa dipakai daripada tidak ada sama sekali. Setelah digergaji kini nampaklah ukurannya telah serasi namunpinggirannya sangat kasar karena gergaji yang tidak tajam tadi.

Si Panjul kembali berkata,” Apakah kamu punya amplas?”

Tiwul menjawab,” Sepertinya aku masih punya dan ada beberapa lembar di gudang.”

Akhirnya mereka berdua menuju ke gudang dan dengan susah payah bongkar sana bongkar sini mencari kertas amplas. Sial, kertas amplas ditemukan tapi karena terlalu halus maka setelah setengah jam mengamplas tak pula halus pinggiran triplek tadi.

 

Sambil kelelahan Panjul berkata,” Wul, tampaknya amplas ini tidak sesuai kebutuhan kita, aku akan meminjam serutan kayu saja. Dalam sekejap pasti beres dan halus.”

Berjam-jam Tiwul menunggu Panjul akhirnya dapat juga serutan yang dimaksud. Dengan rasa puas dan bangga Panjul menunjukkan serutan tersebut,” Wah, aku capek sekali berkeliling-keliling karena teman kita jarang ada yang punya. Untunglah aku bertemu teman kita si Kuncung yang mengatakan bahwa dia punya serutan yang tidak terpakai. Akupun bongkar sana-sini membantunya mencari digudang, syukurlah tidak sia-sia.”

”Ayo Wul, kita selesaikan pekerjaan yang tertunda tadi!” ujarnya bersemangat.

 

Saat menyerut sadarlah mereka bahwa mata pisau serutan itu tumpul dan berkarat karena sudah lama tidak terpakai.

”Wul, kamu punya batu asahan pisau tidak?”

Tiwulpun segera ke dapur mencari batu asahan pisau. Berdua mereka mengasah mata pisau serutan kayu tadi. Karena tidak biasa maka pegal-pegal lah tangan mereka karena sudah lama mengasah tapi mata pisau itu tak kunjung tajam juga.

30 menit mereka mengasahnya dan akhirnya berhasil membuat tajam mata pisau tersebut.

Tetapi karena serutan itu sudah lama tidak terpakai plus ditambah pemakainya tidak tahu cara yang benar menyerut kayu, maka gagang kayu serutan yang tua itupun patah.

 

Dengan marah, jengkel dan putus asa mereka berdua berhenti sambil menyeka peluh.

Panjul berkata,” Wul, coba kamu aja yang sekaran cari pinjaman serutan yang lain barangkali masih ada yang punya dalam kondisi baik. Kalaupun tidak ada, pinjam apalah yang penting bisa menghaluskan triplek ini. Kikir, gerinda atau terserah apa deh yang ada.”

 

Akhirnya setelah berkeliling cukup lama Tiwul kembali pulang ke rumahnya sambil membawa kikir.

”Njul, aku Cuma dapat pinjaman kikir besi kecil ini, bibirku sampai dower kakiku sampai berasa patah demi mencari kikir ini karena rata-rata mereka tidak memiliki alat pertukangan.”

Malang benar, kikir besi kecil itupun tidak menolong, bahkan membuat pinggiran triplek semakin tidak rata.

 

Ditengah kelelahan si Panjul muncul ide lagi,” Wul, mari kita cari pohon yang kuat, nanti kita buat sendiri saja gagang serutan kayu tadi dari pohon yang kita tebang!”

Akhirnya mereka berhasil menebang pohon, potong dahan sana terlalu besar, potong dahan sini terlalu kecil. Sana-sini hasilnya tetap saja kurang bagus. Sesampai dirumah mereka kembali bekerja untuk membuat gagang yang pas. Kayu dilubangi, digergaji dan diamplas. Kayu kurang rata diratakan, lubang kurang besar dibesarkan, kayu kurang halus dihaluskan.

Kesibukan mereka akhirnya beralih untuk menghasilkan gagang serutan kayu dan setelah menjelang sore mereka baru bisa membuat gagang dengan ukuran yang pas. Akhirnya mereka kembali menyerut triplek namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Setelah hampir sejam merekapun menyerah, sambil duduk memandangi kerjaan yang berantakan, hasil yang tidak karu-karuan. Sana-sini tercecer peralatan. Jengkel, lelah, marah dan putus asa campur aduk dalam benak mereka..mengapa pekerjaan memasang lukisan berkembang menjadi sedemikian jauh?

 

Setelah terduduk 10 menit, Panjul yang super antusias ini kembali bangkit dan dengan bersemangat berkata,”Wul, kamu tunggu disini ya, aku akan ke pinggiran kota. Disana ada tukang kayu yang terampil.”

Tiwul yang kecapekan hanya bisa diam dan mengangguk saja, maka pergilah si Panjul.

Singkat kata, tibalah Panjul dipingiran kota. Ruang kerja tukang itu tidak begitu luas, disana-sini berantakan alat sebagaimana layaknya pertukangan. Panjul pada awalnya hanya ingin meminta bantuan tapi demi melihat banyak hal yang tidak beres dan kurang berkenan dihatinya maka Panjul yang baik dan antusias ini tergugah untuk membenahi ruangan si tukang tadi. Dia berkata,” Hai Mas, ruanganmu ini tidak terlalu besar, semestinya bisa diatur lebih rapi lagi. Meja disana, kursi disini, alat-alat sebaiknya dibuatkan kota khusus agar mudah mencarinya, kemudian balok kayu bla..bla..bla..”

 

Si tukang kayu mendengar ide bagus Panjul mengangguk-angguk setuju, kemudian mulailah mereka berdua bergotong royong merapikan ruangan tersebut. Pindah sana pindah sini, geser sana geser sini, gotong ini gotong itu.

 

Sampai malam Tiwul menunggu Panjul yang belum juga kembali. Akhirnya karena merasa cemas Tiwul segera bergegas menyusul ke pinggiran kota untuk melihat kondisi Panjul, dengan meninggalkan rumah dalam kondisi berantakan dan belum dibersihkan.

Ketika sampai didekat rumah tukang kayu, dari kejauhan Tiwul melihat Panjul sedang asyik menggotong-gotong meja.

 

Tampaknya Panjul justru lupa dengan tujuan semula.

 

 

Posted by ndablek at 07:18:59 | Permalink | Comments Off

Friday, March 27, 2009

Helm SNI

Duuhh..byuh..byuh..byuh..aturan apalagi ini..hhmm..heeuuhh…

Sudah masyarakat lagi susah, duit pas-pasan lagi-lagi masih saja menjadi sasaran ketidakmatangan penerapan kebijakan pemerintah lewat instansinya.

 

Buat yang belum tahu, gini lho..sekarang ini semua pengendara sepeda motor mulai diwajibkan memakai helm dengan stiker SNI, alias yang sudah lulus Standar Nasional Indonesia untuk mengurangi resiko kecelakaan. (eh, bukannya resiko kecelakaan lebih bisa diminimalisir dengan perilaku berkendara dan uji kelaikan kendaraan yang ’bebas KKN’?)

 

Baikkah kebijakan ini? Tentu saja baik.

Mendukungkah saya? Jelas mendukung.

Lalu kenapa saya mempermasalahkannya?

Ya juelass Mas, Mbak, Om, Tante, Cik, Koh…


Masalahnya ada wacana bagi polisi untuk menilang pengendara yang tidak menggunakan helm SNI tersebut.

Nah lho? Bukannya ini malah nanti jadi lahan baru buat para ’pecinta damai’ tersebut?

Belum lagi terbayang kan rentetan efek dominonya, lha wong beberapa pengusaha helm tradisional atau berskala UKM mulai ada yang menghentikan ushanya karena takut merugi. Ujung-ujungnya karyawan yang sudah dibayar minim masih harus menelan pil pahit dirumahkan…dimasa yang serba tidak menetu ini pula.

Sungguh, sudah jatuh ketimpa tangga masih kejatuhan kelapa pula.

 

Masuk akal juga alasan para pengusaha itu karena mereka juga kuatir helmnya tidak laku, bahkan yang sudah laku ke pengecerpun kemungkinan besar akan dikembalikan ke produsen.

Masalah utamanya adalah sosialisasi yang terburu-buru. Menurut hemat saya setidaknya hal seperti ini mestinya sudah disosialisasikan 6-12 bulan sebelumnya, sehingga mata rantai yang ada didalamnya (termasuk konsumen) bisa mempersiapkan diri.

 

Kenapa saya senewen?

Lha iya, kan saya juga terlanjur membeli helm biasa dan sampai sekarang Skondisinya masih baik pula.

Meskipun demikian saya selalu memilih yang full face dan tidak terlalu tipis, meskipun bukan yang berlabel SNI. Bagi saya, kehati-hatian berkendara jauh lebih berperan dalam mengurangi resiko celaka dijalan.

 

Sudah begitu yang terbayang dibenak saya adalah bagaimana orang yang sudah membeli helm berlabel SNI, lalu mencopot stiker SNI tersebut karena jelek atau karena akan dicat ulang? Kan petugas ’pecinta damai’ bisa saja berkeras itu helm non SNI.

Apa nanti tidak malah jadi jual beli stiker untuk mengelabui petugas?

 

Penguasa..penguasa..makanya kalau melakukan rekrutmen itu mbok yang baik seperti perusahaan swasta, benar-benar difilter.

Jadi SDM yang bekerja didalamnya bisa menghasilkan kebijakan yang profesional dan strategis.

Lha wong yang sudah direkrut dengan baik saja masih punya kelemahan apalagi yang sembarangan.

 

Duuhh..byuh..byuh..byuh..

 

 

Posted by ndablek at 03:42:44 | Permalink | No Comments »

Wednesday, March 25, 2009

Saya dan tetangga baru


 

Belakangan ini saya bertemu kembali dengan teman lama yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kami dulu kenal saat masih sama-sama kuliah di Jogja, saat dimana kami lagi culun-culunnya, yah..tahu sendiri kan mahasiswa Jogja secara kualitas finansial tidak sebaik mahasiswa Jakarta ataupun Bandung. Dulu kami kurus, tidak seperti sekarang yang sudah mulai gendut, seolah ingin lekas-lekas meninggalkan image udik, ga terurus dan miskin.

 

Nah kebetulan teman saya ini sedang mencari tempat tinggal didaerah Jakarta Pusat, sebelumnya dia bekerja dan tinggal didaerah Selatan. Jadilah akhirnya saya menginformasikan bahwa sebelah tempat tinggal saya kosong dan belum ada yang menyewa.

 

Hari-hari awal selalu kami isi dengan bercengkerama sepulang kerja seputar flashback kenangan saat di Jogja, saling bercerita kabar si A dan kabar si B yang begini dan yang begitu, yang sudah punya ini dan itu serta si C dan si D yang masih disini disitu aja.

Tapi lama-lama entah darimana datangnya seringkali kami terjebak pembicaraan yang terkait dengan penghasilan, harta yang sudah dimiliki dan mimpi-mimpi menjadi orang sukses dengan segala antusias masing-masing, meskipun dengan nada bercanda dan saling merendah.

Meskipun begitu saya tahu pasti saya pasti kalah soal penghasilan, karena jenis pekerjaan yang digeluti berbeda…setidaknya mobilnya lebih baru dan mahal dari punya saya.

 

Lama-lama jengah juga kalau begini, dulu kalau bercerita tentang pekerjaan maka yang terbayang adalah bagaimana bisa menjadi lebih baik dan saling bertukar informasi, tapi sekarang sepertinya tanpa perlu diungkap pun saya merasa sebaiknya menjadi pendengar saja karena sudah pasti ’lebih banyakan duitnya’ alias lebih advance tarafnya. Padahal semasa kuliah, saya dulu lebih makmur lho, setidaknya demikian pandangan saya..wong saya sudah naik motor sementara dia cuma jalan kaki.

 

Tapi yah.. nasib dan jalan hidup orang memang tidak bisa ditebak. Boleh jadi dulu lebih baik, sekarang malah sebaliknya. Saya diwisuda lebih dulu tidak berarti lebih sukses dari teman yang diwisuda belakangan..karena ternyata perusahaan yang dimasuki sangat memberi andil pada taraf hidup seseorang pada tahun-tahun berikutnya.

 

Tapi yang bisa dipetik dari cerita ini adalah saya harus selalu waspada bahwa keadaan sekarang tidak langgeng, jadi tidak boleh santai dan merasa puas dulu. Dan sebaik-baiknya keadaan orang lain, maka akan lebih baik lagi kalau saya bisa mensyukuri keadaan yang saya jalani sekarang sambil terus berusaha untuk meraih prestasi gemilang.


Yang terakhir..saya diingatkan untuk tidak meremehkan orang lain yang meskipun kondisinya sekarang dibawah saya dan belum ’diwisuda’, karena suatu saat kalau Tuhan berkenan maka dia bisa saja ada diatas saya dan saya hanya bisa mengagumi keberhasilannya saja.

Posted by ndablek at 09:08:17 | Permalink | No Comments »

Sunday, March 22, 2009

Cinta & Keadilan


 

 

Disebuah kampung pedalaman hidup seorang kepala suku yang terkenal sangat bijaksana. Agar rakyatnya hidup aman dan damai ia secara cermat menyusun undang-undang sebagai pedoman untuk setiap aspek kehidupan suku yang dipimpinnya.

 

Ternyata walaupun telah ada aturan tersebut rupanya masalah tetap saja ada. Suatu hari sang kepala suku mendapat laporan dari rakyatnya bahwa telah beberapa kali terjadi pencurian. Kemudian kepala suku segera mengumpulkan rakyatnya dan berkata,
”Kalian tahu bahwa undang-undang dibuat dan diterapkan untuk melindungi dan menolong kita bersama agar hidup dalam damai dan rasa aman. Pencurian ini harus dihentikan, maka apabila ada orang dari suku ini yang kedapatan mencuri kepadanya akan ditambah sepuluh cambukan menjadi dua puluh cambukan sebagai hukumannya.”

 

Waktu berjalan, namun si pencuri rupanya tidak gentar dengan ancaman kepala suku. Pencurian kembali lagi terjadi saat rakyat sibuk bekerja di ladang.

Kepala suku segera mengumpulkan rakyatnya dan berkata,”Tolong dengarkan saya, perbuatan ini harus dihentikan. Siapapun engkau segera bertobatlah dan biarkan rakyat hidup tenang. Pencurian ini menyakiti kita semua dan membuat kita saling curiga. Kini hukuman akan saya tambah menjadi tiga puluh cambukan jika ada yang kedapatan mencuri.”

 

Ternyata pencurian masih tetap terjadi. Maka kembali pada pertemuan rakyat kepala suku menegaskan,
”Demi kebaikan kalian sendiri maka pencurian ini harus dihentikan. Hukumannya akan saya tambah menjadi empat puluh cambukan jika kedapatan ada yang mencuri!”
Kepala suku mengatakan dengan pilu, kali ini kepedihan sangat nampak diwajahnya karena merasa ia sudah tidak disegani lagi. Orang yang berada didekatnya saja yang bisa melihat tetesan air matanya saat ia membubarkan pertemuan itu.

 

Sampai pada suatu hari sekelompok laki-laki datang kepadanya dan mengatakan bahwa pencurinya telah tertangkap. Berita itu segera tersebar dan semua orang berkumpul karena penasaran dengan wajah si pencuri dan ingin tahu tindakan yang akan diambil sang kepala suku terhadapnya.

 

Ketika si pencuri dibawa kedepan kepala suku, tampak wajah kepala suku yang sangat terpukul dan terguncang. Pencuri itu tidak lain adalah anaknya sendiri.

”Apa yang akan dilakukannya sekarang?” terdengar suara orang yang berkerumun disitu. Mereka ingin tahu sikap kepala suku, apakah ia akan tetap menegakkan hukum ataukah cintanya kepada anaknya akan mengalahkan hukum?

Rakyat menunggu dengan cemas, suasana terasa sangat mencekam.

 

Akhirnya kepala suku berkata,” Rakyatku tercinta..” nadanya terdengar berat,
” ..demi keamana dan tegaknya keadilan dikampung kita maka hukuman cambuk empat puluh kali harus dilaksanakan!” suaranya terdengar semakin bergetar sementara anaknya berusaha mengiba-iba dan mohon ampun.

Selanjutnya kepala suku segera memberikan instruksi kepada algojo untuk bersiap-siap dan mengikat anaknya ditiang pencambukan. Anaknya meronta dan menangis saat para algojo mulai membuka bajunya.

 

Saat itulah tanpa diduga sang kepala suku turun mendekati tiang, dan melepas jubah kebesarannya. Nampak bahu yang lebar dan kokoh mencerminkan kekuatannya.

Ia merangkul anaknya dengan lembut dan melindungi tubuh si anak dengan tubuhnya sendiri. Ia berbisik dengan lembut dipipi anaknya, entahlah apa yang dikatakannya namun keduanya terlihat menangis sehingga air mata keduanya bercampur.

Dan seketika itu sang kepala suku berseru dengan lantang pada algojo,” Segera mulailah hukumannya! Jangan banyak bertanya. Ini perintah!”

Dan genap empat puluh kali pula cambukan yang diterima sang kepala suku hingga membuatnya berdarah-darah dan lemah.

 

Rakyat yang menyaksikan peristiwa tersebut terhenyak dan membisu, takjub melihat bagaimana kepala suku menjalankan cinta dan keadilan dalam satu waktu.

”Dialah pemimpin sejati”, demikian gumam para rakyatnya.


Masih adakah pemimpin seperti itu dilingkungan Anda?

 

Posted by ndablek at 11:27:12 | Permalink | No Comments »

Friday, March 20, 2009

Terbanglah tinggi



Setelah sekian lama berusaha menepikanmu, mencoba fokus pada apa yang sekarang kujalani.. tiba-tiba secara tak sengaja kudengar berita pernikahanmu. Akupun ikut bahagia. Hingga kini kalau mendengarkan lagu atau terkenang suasana saat dulu hati kita terjalin, hati ini masih seperti tak percaya.

 

Antara ikut bahagia… tapi juga masih terasa mengejutkan, cukup membuatku terpaku kelu.

Hati ini seperti tertusuk duri, pedih…seperti luka yang tak bisa kering dalam semalam.

Aku senang karena akhirnya kamu menemukan pasangan hatimu, meskipun ternyata tidaklah mudah merelakanmu dimiliki. Tapi senyum bahagiamu itu meyakinkanku kamu bersama orang yang tepat.

 

Semoga pernikahanmu menjadi awal yang terbaik untuk kehidupan masa depanmu. Dan seandainya kamu menemukan tulisan ini, ketahuilah aku akan selalu mendoakanmu untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu.

Dan akan terus kujalani juga apa yang telah kujalani, hingga kita bertemu kembali suatu waktu nanti..dan mentertawakan kisah kita bersama.

Posted by ndablek at 01:14:44 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, March 18, 2009

Saya yang sok pintar


Kalau Anda seorang karyawan yang sudah cukup mapan, meskipun gajinya juga tidak melulu besar namun setidaknya sudah berkecukupan, ada rumah dan kendaraan serta tabungan. Lalu tiba-tiba Anda diajari seorang mahasiswa tentang ”bagaimana menjadi seorang karyawan yang baik” padahal dia sendiri belum pernah bekerja dan bahkan untuk kekampusnya saja dia masih menggunakan sepeda bututnya, lengkap dengan tas ransel kumalnya.

Semua yang dia ajarkan hanyalah teori yang berasal dari buku dan diktat.

Apa yang ada dibenak Anda?

Bisa jadi Anda mengambil ilmunya, tapi kemungkinan besar mencemooh atau mentertawakan dalam hati karena merasa kondisi sebenarnya justru dia yang lebih perlu dibantu mengurus dirinya sendiri dulu.

 

Dalam bekerja seringkali saya merasa menjadi mahasiswa tadi. Seringkali saya ’terpaksa’ menjadi sok tahu, sok mengajari, sok menuntun orang lain untuk lebih maju sementara kondisi yang sebenarnya mereka jauh lebih baik daripada saya.
Setidaknya mereka telah mempraktekkan bisnis dibandingkan saya yang masih dalam tahap wacana. Secara takaran kemakmuran pun saya masih jauh dibawah para pebisnis itu. Apalagi dalam ukuran kemandirian dan keberanian mengelola resiko.


Tapi ketika mereka cenderung menolak ilmu yang kami bawakan, segera saja ada pendapat yang menjustifikasi bahwa mereka malas, sulit maju, kayu mati dan sebagainya.

Hei…bercerminlah dulu, belum tentu ketika posisi ditukar kita bisa menghasilkan separuh dari yang bisa dia hasilkan saat ini lho.


Jadi sebaiknya tidak sok tahu dan sok pintar ya..tapi menciptakan empati, berpikir seolah berada diposisi orang yang kita ajari. Dan tentunya kita cerminkan diri kita terlebih dulu dengan ’bukti’ supaya setidaknya mereka lebih yakin bahwa ilmu yang kita berikan pun telah berhasil mengembangkan nasib kita, meskipun dibidang yang berbeda.

Posted by ndablek at 04:52:59 | Permalink | No Comments »

Sunday, February 15, 2009

Sesuatu tentang selingkuh


Disaat semua sudah terjadi, mapan dan mengalir begitu rupa menyongsong cita dan asa masa depan, tiba-tiba sosokmu hadir dihidupnya. Sekian banyak wanita yang dia kenal, tapi dirimu menyimpan pesona yang luar biasa-yang belum pernah dia temui sebelumnya. Banyak wanita didunia ini yang cantik namun kecantikanmu lain, sinergis dengan kecerdasanmu, tutur katamu, perilaku, kegigihan serta sifatmu yang begitu anggun. Dirimu adalah sosok impian yang selama ini dia cari, mengapa kalian baru bertemu? Mengapa dia melewatkanmu?

 

Tak cukup rasanya selembar kertas untuk menggambarkan pesonamu. Yang dia tahu, ada perasaan yang diluar biasanya saat menatap dan mendengarmu berbicara. Namun dia sudah ada yang punya, sementara masa depanmu masih sangat menjanjikan beragam warna.

 

Ingin dia tepiskan bayangmu, namun semakin kuat usahanya maka semakin pula sosok dirimu semakin nyata dibenaknya.

Apakah dirimu adalah belahan jiwanya? Lalu apa artinya dengan wanita yang telah mendampinginya selama ini? Bagaimana dengan cinta yang sangat besar dan jiwa raga yang telah diabdikan untuknya? Bahkan tanpa wanita tersebut  dia tak akan menjadi seperti saat ini.

 

Hhhh…dia akan sangat berdosa jika meninggalkannya, menghancurkan angannya, namun rasa ini begitu tajam menusuk hatinya dan enggan pergi. Tidak mungkin sesuatu yang telah diputuskan dihapus begitu saja.

Mengapa dia harus jatuh hati disaat semua telah terjadi? Mengapakah kalian ditakdirkan bertemu? Mengapa tidak sejak dulu?

Adakah jalan bagi kalian? Ataukah ini yang dimaksud bahwa cinta tak harus memiliki?

Posted by ndablek at 14:25:19 | Permalink | No Comments »